[KALEIDOSKOP 2018] Kinerja My Equity FULL YEAR 2018 : +37.46% vs IHSG -2.28%

Hello Traders,

Selamat Tahun Baru 2019!

Bulan Desember 2018 ini, market dibuka naik di awal bulan, dan ditutup dengan kenaikan di akhir bulan. Market bergerak dalam range cukup lebar. Sentimen window dressing akhir tahun, membuat market terangkat cukup banyak +2.28% yang didominasi oleh saham-saham bluechipBulan Desember ini kinerja penulis akhirnya bisa kembali out performed terhadap kinerja IHSG.  Penulis mengubah strategi dari very defensif sepanjang bulan Juli-September menjadi normal di bulan November&Desember ini, dengan mengembalikan RPT (ikhlas rugi dalam satu kali entry buy) menjadi 0.5% dari equity (modal) dan menerapkan Take Profit dengan Risk:Reward = 1:3 (TP RR 300%), serta tidak mengambil barang-barang yang ada dalam tabel incaran TC (Trading Class), atau biasa disebut “Buy_Non_Tabel Incaran” akhirnya mampu menyelamatkan dan cukup untuk mendongkrak kinerja bulanan penulis finish sedikit lebih tinggi dibanding kinerja IHSGPenulis juga menyempatkan waktu untuk screening mandiri, sehingga portfolio penulis cukup berbeda dengan portfolio alumni TC (Trading Class), yang mengikuti Tabel Incaran Trading System Tapak Naga, Highlander, maupun BOW MT (Market Timing). Kinerja penulis di akhir bulan November ini ditutup sebesar +3.07dibanding kinerja Market (IHSG) yang +2.88%.

Ibarat coach/pelatih sepak bola, bulan Desember ini sebagai seorang coach saya menginstruksikan para pemain team saya untuk bermain dengan strategi normal attack&defensive, dengan memainkan pola 4-4-2 , dengan tetap memperkuat barisan pertahanan, dan tidak menyisakan sedikitpun ruang bagi team lawan untuk mencetak gol ke gawang team kami, dan saat lawan lengah segera mencetak goal secepat mungkin melalui serangan balik yang mematikan. Hehehe…

Banyak rekan2 trader yang kinerja trading 2018, secara overal YTD, sudah merugi. Kinerja market bulan Desember yang didominasi kenaikan saham-saham bluechip, tidak serta merta membuat kinerja Trader yang menerapkan system Trend Follower dapat mengikuti kinerja market, bila tidak ikut mengambil saham-saham bluechip. Bahkan, para fund manager professional pun banyak yang kinerjanya sudah turun lumayan. Itu pun masih dianggap wajar, karena marketnya, turun. Namun sebagian besar kinerja rekan2 trader alumni TC (Trading Class), kinerja YTD nya masih banyak yang profit (positive).
Dengan penulis setia pada sistem trading Trend follower dan menurunkan RPTdan disiplin menjaga RPM, maka kinerja trading penulis secara overall YTD masih jauhhh lebih baik dibanding dengan kinerja YTD IHSG (Market). 

Berikut portfolio dan kinerja ekuitas penulis per 28-Des-2018:

My Equity Performance Table, IHSG, Tapak Naga, GS PRO Bulan Desember 2018

“Bagaimana posisi kinerja penulis ini jika dibandingkan dengan level MI (Manajer Investasi)?”

Berikut data yang penulis dapatkan dari website Indopremier sekuritas untuk Top 20 Reksadana saham dengan kinerja terbaik dan Top 3 Manajer Investasi (MI) Terbaik selama bulan Desember 2018:

 

Performa Top 20 Manajer Investasi (MI) Reksadana Saham (RDS) bulan Desember 2018

Performance Top 3 Manajer Investasi Terbaik di bulan Desember 2018

Ternyata posisi kinerja ekuitas penulis YTD per 28-Desember-2018 (+37.46%) sudah dapat mengungguli kinerja 20 besar Fund Manager Reksadana Saham terbaik. Kinerja penulis berada di atas Fund Manager yang menduduki peringkat pertama yaitu  Simas Syariah Unggulan  (+32.63%).

Baiklah, mari kita mulai perjalanan KALEIDOSKOP/Kilas Balik/Flash Back IHSG sepanjang tahun 2018 ini. Berikut adalah Chart/Grafik IHSG sepanjang tahun 2018 :

Chart/Grafik IHSG sepanjang tahun 2018

Secara umum, penulis membagi chart IHSG Full Year tahun 2018 ke dalam 4 phase, yaitu :

  1. Super Bullish : Bulan Januari-Februari
  2. 1st Drawdown : Bulan Maret-April
  3. Konsolidasi/sideways : Bulan Mei-Oktober
  4. Kembali Bullish : Bulan November-Desember

Dan berikut, chart/grafik kinerja penulis bulan Desember 2018 :

Kinerja My Equity Monthly vs IHSG bulan Desember 2018

Secara umum, penulis membagi strategi trading (termasuk kesalahan trading untuk pembelajaran) ke dalam beberapa bagian, yaitu :

  1. Super Bullish Bulan Januari-Februari : RPT 0.6% x equity, Haka Full Margin, Average Up,
  2. 1st Drawdown Bulan Maret : Kesalahan pertama, entry BOW MT (Market Timing) yang failed sampai kinerja mines -19% monthly, evaluasi pemakaian RPM dengan Trailing Stop Highest NAV, No Average Up,
  3. Konsolidasi/sideways Pertama Bulan April-Juni : Mulai evaluasi kinerja trading, turunkan RPT menjadi 0.5% x equity, terapkan sistem FEARLESS HAKI (Penggal lebih awal) jika Harga Close di bawah Harga Trigger Buy, terapkan safety pemakaian RPM dengan Trailing Stop Highest NAV, maintain No Average Up,
  4. Konsolidasi/sideways Kedua Bulan Juli-Oktober : Kembali evaluasi kinerja trading, turunkan RPT lagi menjadi 0.2% x equity, terapkan Take Profit dengan rule RR (Risk:Reward) 300%, maintain sistem FEARLESS HAKI (Penggal lebih awal) jika Harga Close di bawah Harga Trigger Buymaintain safety pemakaian RPM dengan Trailing Stop Highest NAV, maintain No Average Up,
  5. Kembali Bullish Bulan November-Desember : Kembali evaluasi kinerja trading, naikkan RPT kembali normal menjadi 0.5% x equity, maintain Take Profit dengan rule RR (Risk:Reward) 300%, terapkan BUY_NON_TABEL_INCARAN, Average UP, maintain sistem FEARLESS HAKI (Penggal lebih awal) jika Harga Close di bawah Harga Trigger Buy, maintain safety pemakaian RPM dengan Trailing Stop Highest NAV.

Setelah merefleksikannya pada akhir tahun 2018 lalu, penulis menyadari bahwa menjadi seorang trader pun harus tanggap dan trengginas (baca : ADAPTIF – Red.) terhadap kondisi Market yang cukup menantang (baca : FLUKTUATIF – Red.) terutama di pertengahan tahun 2018 (periode KONSOLIDASI/SIDEWAYS), dimana banyak false breakout (trigger buy), yang pada akhirnya berakhir dengan terkena STOP Lose. 

Berikut beberapa modifikasi sistem dan aplikasi trading yang penulis terapkan di tahun 2018 :

  1. Perubahan RPT : Mulai dari 0.6%, 0.2%, kembali lagi ke 0.5%,
  2. Perubahan RPM : Mulai dari 10% x Modal Awal, menjadi flexible 10% x Highest NAV,
  3. Take Profit dengan Risk:Reward = 1:3 (RR 300%),
  4. BUY_NON_TABEL_INCARAN,
  5. Fearless HAKI : Buang manual jika harga close di bawah harga trigger buy,
  6. AVERAGE UP/No Average UP.

And Finally, berikut chart/grafik kinerja penulis FULL YEAR Tahun 2018 :

Kinerja My Equity YTD vs IHSG s/d bulan Desember 2018

Puji Tuhan, meski tahun 2018 kondisi Market tidak semulus tahun 2017, namun kinerja ekuitas penulis YTD per 28-Desember-2018 berhasil finish di posisi (+37.46%), dimana sudah di atas target tahunan penulis, yaitu dapat mengungguli kinerja Mr.Market (IHSG) dan Top 10 Fund Manager Reksadana Saham terbaik di Indonesia.

“Bagaimana posisi kinerja penulis ini jika dibandingkan dengan level website/mentor berbayar?”

Perbandingan kinerja penulis dengan website/mentor berbayar misal Galeri Saham (GS PRO) yang biasanya memungut fee langganan bulanan/tahunan untuk membernya, penulis kembali berhasil mengalahkan kinerja GS PRO, yaitu penulis (+37.46%) vs GS PRO (+xx.yy%).  Sayang sekali, penulis belum berhasil mendapatkan kinerja GS-PRO bulan Desember 2018 ini, karena memang pelaporannya sering terlambat.

Karena GS-PRO sering terlambat dalam pelaporan kinerja bulanan maupun YTD, maka mulai tahun 2019, penulis akan BERHENTI menggunakan kinerja GS-PRO sebagai benchmark lagi, melainkan akan menggantikannya dengan kinerja TAPAK NAGA. Berikut kinerja TAPAK NAGA bulan Desember 2018 (-1.19%) Vs Kinerja Penulis (+3.07%); dan kinerja YTD TAPAK NAGA (+20.03%) Vs Kinerja YTD Penulis (+37.46%).  Berikut link untuk mengetahui kinerja TAPAK NAGA secara bulanan maupun FULL YEAR 2018, klik disini.

Kinerja Sistem TAPAK NAGA secara bulanan dan FULL YEAR 2018

Apa saja saham yang berkontribusi positif maupun negatif bagi portfolio penulis?

Portfolio Penulis per tanggal 28-Des 2018 (Top Gainers dan Top Losers)

Tabel di atas menunjukkan prosentase floating profit maupun lose dari emiten-emiten yang penulis miliki sampai tanggal 28-Desember-2018. Dengan sistem trading Trend Follower, emiten-emiten yang berada dalam “trend terkuat” selalu berhasil penulis miliki. Ditambah dengan money management yang baik, membuat posisi yang penulis miliki di suatu emiten tidak sampai “nyangkut dalam”, melainkan resiko sudah dikalkulasi terlebih dahulu sebelum entry buy, sehingga kalaupun terpaksa “nyangkut”, maka posisi penulis adalah “nyangkut yang terukur”, wkwkwk….. Dan sudah terbukti, hanya sistem trading Trend Follower sajalah yang mampu secara konsisten mampu mengalahkan kinerja Mr.Market (IHSG) dan fund manager reksadana maupun mentor berbayar lainnya.

Berikut kinerja rekan2 sesama trader dari padepokan TC (Trading Class) :

Klasemen/Raport Trading Class (TC) League bulan Desember 2018

 

Klasemen/Raport Trading Class (TC) League Year To Date (YTD) s/d bulan Desember 2018

Bulan Desember ini, penulis come back dan finish di posisi 8 klasemen bulanan. Sedangkan untuk klasemen Year To Date, penulis masih bertahan di “Premier League” dan menduduki peringkat ke-6 dari 82 orang yang kumpul raport. Puji Tuhan ????

Persaingan di Top 10 rangking TC League makin keras saja. Terbukti ada member TC yang kinerja dalam sebulan masih bisa perform +9% di tengah kondisi market yang kembali bullish, dan kinerja YTD masih konsisten di angka +240% FULL YEAR selama 12 bulan! Luarrr biasa 🙂

Sayang sekali, bulan Desember 2018 adalah untuk terakhir kalinya Raport TC (Trading Class) member dipublikasikan, karena ternyata banyak member TC yang tidak konsisten kumpul raport selama tahun 2018. Namun, jangan khawatir, untuk kinerja TAPAK NAGA tetap akan dipublikasikan, sehingga dapat digunakan sebagai benchmark kinerja penulis, disamping kinerja IHSG.

Ada 3 (tiga) pelajaran berharga yang penulis dapatkan dari pengalaman drawdown cukup dalam di bulan Maret, yang telah diperbaiki di bulan Nov-Des ini :

  1. Strategi Risk Per Month (Ikhlas Rugi dalam sebulan) telah diupdate dengan Trailing Stop (TS RPM), yaitu perhitungannya dari NAV tertinggi, bukan dari modal awal.
  2. Disiplin menjalankan strategi RPM ini. Artinya jika posisi NAV sudah kena limit batas bawah yang diijinkan (misal 10%*NAV tertinggi), maka artinya sudah harus STOP BUY untuk bulan tersebut.
  3. Strategi Risk Per Trade (Ikhlas Rugi dalam setiap transaksi) saat IHSG mulai drawdown (akhir Juni 2018) yang penulis turunkan ke 0.2-0.4%*equity untuk setiap kali akan entry buy, cukup berhasil meredam penurunan/drawdown equity penulis. Bulan November-Desember penulis kembali terapkan RPT 0.5% x equity.

Ada 7 (tujuh) kunci penting dalam hal trading di TC :

  1. Disiplin menggunakan Money Management (pakai RPT/Risk per Trade atau Bagi Porsi)
  2. Risk Per Month (RPM) yang sanggup diterima
  3. Average Up atau Tidak Average Up
  4. Rajin input Trading Jurnal
  5. Jenis Trailing Stop yang dipilih
  6. Jenis Account (Margin, Reguler, Syariah)
  7. Sistem Trading yang dijalankan

Ini yang membuat penulis harus senantiasa memperlakukan TRADING sebagai BISNIS. Karena dengan begitu, penulis diingatkan bahwa dana yang dikelola ini bukan sekedar “mainan” atau untuk “fun” saja, melainkan harus “profit konsisten”. Karena sudah terbukti, dengan (KEMBALI) disiplin dan (KEMBALI) taat pada sistem saja, kinerja penulis bisa sedikit lebih unggul dibanding Mr.Market (IHSG), namun kinerja YTD masih tetap kinclong sehingga penulis kembali masuk ke Premier League dan finish di posisi 6 klasemen YTD 😀

Special thanks untuk mentor penulis, Bapak Hadi Jie, yang sudah “naik kelas” menjadi seorang “full time trader”, yang memberi kail dan bukan umpan, memberi sistem dan bukan stockpick. 

Okey, sampai ketemu awal Februari 2019, untuk pertanggungjawaban kinerja trading selama bulan Januari ini.

Salam CUANtastic!

4 thoughts on “[KALEIDOSKOP 2018] Kinerja My Equity FULL YEAR 2018 : +37.46% vs IHSG -2.28%”

    1. Berikut penjelasan pak Hadi yg sy peroleh dari blog pribadinya :
      http://hadijie.blogspot.com/2019/01/kinerja-sistem-trading-tapak-naga-tn.html?m=1
      “Saya sejak juni s/d oktober, trade menggunakan sistem trading baru, namanya Maximus (bukan sistem Tapak Naga), sistem Maximus sedang saya uji coba secara real trade/real money.
      Secara sistem, baik-baik saja, namun secara eksekusi, ada banyak kesalahan. Namun kesalahannya bukan pada sistem, melainkan pada besarnya risk dan lot size yang terlalu besar, sehingga di kala market sideways begini, menghadapi big lose. Namun pada akhirnya, setelah pengujian dan adjust optimize parameter, secara hasil kinerja 10 tahun ke belakang, kinerja Maximus belum bisa menandingi kinerja sistem trading Tapak Naga.
      Sehingga sejak November, saya kembali ke asal, menggunakan sistem Tapak Naga saja. Biaya lose yang saya alami, untuk test maximus setara dgn 17% equity”.

  1. mau nanya pak , kinerja ekuitas pak Anton s YTD 2018 +37.46%, itu hasil screeningnya masih pakai sistem Tapak Naga juga ya? emiten2 top gainer maupun top loser berbeda dengan yg di share pak Hadi?

Leave a Reply